Tampilkan postingan dengan label Tempat Wisata di Jawa Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tempat Wisata di Jawa Barat. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juni 2015

Taman Wisata Alam Linggajati

Taman Wisata Alam Linggarjati adalah salah satu objek wisata alam di Kabupaten Kuningan. Linggarjati adalah salah satu tempat titik awal pendakian ke Gunung Ciremai.

 

Keadaan Fisik Taman Wisata Alam Linggajati

Luas dan letak

Kawasan hutan Linggarjati seluas 11,51 Ha. Ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam (TWA) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 53/Kpts/Um/2/1975 tanggal 17-2-1975. Kawasan ini merupakan bagian yang terpisah dari kawasan hutan lindung Gunung Ciremai yang ditetapkan sejak tahun 1924 oleh pemerintah Belanda.
Taman Wisata Alam Linggarjati terletak di Desa Linggarjati Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan,secara astronomis terletak di antara 6 derajat 47°’ – 6 derajat 58° LS dan 108 derajat 30° – 108 derajat 30° BT.

Topografi

Keadaan lapangan secara keseluruhan menurun dari arah barat ke timur, dengan ketinggian tempat 55 meter di atas permukaan laut.

Iklim

Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, kawasan ini termasuk tipe iklim C dengan rata-rata curah hujan per tahun 3.541 mm.

 

Potensi Biotik Kawasan Taman Wisata Alam Linggajati  

Flora

Flora yang terdapat di kawasan ini di antaranya : Bungur (Lagerstroemia sp), Pasang (Quercus sp), Kiara (Ficus sp), Lemo (Alstonia scholaris), Jamuju (Podocarpus imbricatus) dan Kiacret (Spathodea campulata). Jenis pohon-pohon tersebut tumbuh dengan baik dan kini telah banyak yang berdiameter lebih dari 50 cm dengan tinggi bebas cabang ± 10 meter serta memiliki tajuk yang lebar, hal ini berdampak berkurangnya tumbuhan bawah (di samping karena adanya upaya pemeliharaan). Di sisi lain, keadaan tersebut menimbulkan kenyaman bagi wisatawan karena suasana lebih teduh (dapat menimbulkan iklim mikro).

Fauna

Jenis fauna yang ada di taman Wisata Alam Linggarjati adalah jenis burung seperti Burung Pipit (Lonchura leucogastoides) dan Kepodang (Oriolus chinensis), jenis satwa lainnya terutama yang memiliki ukuran tubuh cukup besar relatif tidak ada, hal ini disebabkan karena sempitnya kawasan dan intensifnya pengelolaan kawasan.

 

Potensi Wisata Alam Taman Wisata Alam Linggajati   

Daya tarik Obyek

Di samping panorama alam yang indah Taman Wisata Alam Linggarjati memiliki hawa yang sejuk dan segar. Tidak jauh dari lokasi TWA ini juga terdapat bangunan yang bernilai sejarah, yaitu gedung tempat berlangsungnya perjanjian Linggarjati antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda yang mempunyai daya tarik tersendiri.
Kegiatan wisata yang telah ada terdapat di luar kawasan perlindungan hutan dan pelestarian alam adalah Cibulan (obyek wisata yang telah banyak pengunjungnya) sehingga daerah ini merupakan rangkaian obyek wisata.
Kegiatan Wisata alam yang dapat dilakukan
  1. Menikmati keindahan alam dan sekitarnya
  2. Memancing
  3. Berenang.

Sarana dan Prasarana Taman Wisata Alam Linggajati

Sarana pengunjung dan prasarana pengelolaan yang telah ada pada saat ini di antaranya adalah tempat penginapan (pesanggrahan), tempat parkir, kolam renang, tempat bermain anak-anak, loket karcis, shelter, pos jaga, jalan setapak dan MCK.

 

Aksesibilitas Taman Wisata Alam Linggajati

Taman Wisata Alam Linggarjati dari Bandung berjarak ± 160 Km, dengan rute perjalanan sebagai berikut :
  1. Bandung – Cirebon – Cilimus – Linggarjati ± 160 Km.
  2. Kuningan – Linggarjati ± 28 Km.

Minggu, 14 Juni 2015

Tempat Wisata Waduk Cirata Bandung Barat

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata merupakan PLTA terbesar di Asia Tenggara. PLTA ini memiliki konstruksi power house di bawah tanah dengan kapasitas 8x126 Megawatt (MW) sehingga total kapasitas terpasang 1.008 Megawatt (MW) dengan produksi energi listrik rata-rata 1.428 Giga Watthour (GWh) pertahun.

Kapasita 1008 MW tersebut terdiri dari Cirata I yang memiliki empat unit masing-masing operasi dengan daya terpasang 126 MW yang mulai dioperasikan tahun 1988 dengan daya terpasang 504 MW, selain itu Cirata II juga dengan empat unit masing-masing 126 MW, yang mulai dioperasikan sejak tahun 1997 dengan daya terpasang 504 MW. Cirata I dan II mampu memproduksi energi listrik rata-rata 1.428 GWh pertahun yang kemudian dislaurkan melalui jaringan transmisi tegangan ekstra tinggi 500 kV ke sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali (Jamali).

Guna menghasilkan energi listrik sebesar 1.428 Gwh, dioperasikan delapan buah turbin dengan kapasitas masing-masing 129.000 KW dengan putaran 187,5 RPM. Adapun tinggi air jatuh efektif untuk memutar turbin 112,5 meter dengan debit air maksimum 135 m3 perdetik.

PLTA Cirata dibangun dengan komposisi bangunan power house empat lantai di bawah tanah yang menpengoperasiannya dikendalikan dari ruang control switchyard berjarak sekitar 2 kilometer (km) dari mesin-mesin pembangkit yang terletak di power house.

PLTA tersebut merupakan pembangkit yang dioperasikan oleh anak perusahaan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN persero) yaitu PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) yang disalurkan melalui saluran transmisi tenaga listrik 500 kilo volt (KV) ke sistem Jawa Bali yang diatur oleh dispatcher PLN Pusat Pengatur Beban (P3B).Kontribusi utama Cirata terhadap sistem Jawa Bali yaitu memikul beban puncak dan beroperasi pada pukul 17.00-22.00, dengan moda operasi LFC (Load Frequency Control), dimana memiliki fasilitas line charging bila sistem Jawa Bali mengalami Black Out dan Start up operasi/ sinkron ke jaringan 500 KV yang relatif cepat yaitu kurang lebih lima menit.

PLTA Cirata terletak di daerah aliran sungai (DAS) Citarum di Desa Tegal Waru, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Sedangkaln luas Waduk Cirata, dari ujung selatan kecamatan Cipeundeuy kabupaten Bandung barat, dan terbendung di desa Ciroyom, kecamatan Cipeundeuy kabupaten Bandung barat, yang berbatasan langsung dengan maniis kabupaten Purwakarta. Latar belakang pendirian PLTA ini, dengan letak sungai Citarum yang subur, bergunung-gunung dan dianugerahi curah hujan yang tinggi. Pembangunan proyek PLTA Cirata merupakan salah satu cara pemanfaatan potensi tenaga air di Sungai Citarum yang letaknya di wilayah kabupaten Bandung, kurang lebih 60 km sebelah barat laut kota Bandung atau 100 km dari Jakarta melalui jalan Purwakarta

Tempat Wisata Situ Lembang Bandung Barat

Situ Lembang adalah danau yang dikelilingi pegunungan yang terletak di ketinggian. Situ atau danau ini sendiri merupakan kaldera dari letusan Gunung Sunda 2-3 juta tahun yang lalu. Terletak di antara Gunung Burangrang, Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Sunda.

 

Daerah Pendidikan PA Situ Lembang

Situ Lembang merupakan bagian dari Gunung Burangrang termasuk daerah militer di bawah Komando Pusdikpassus

Tempat Wisata Gua Pawon Bandung Barat

Gua Pawon adalah sebuah tempat yang penting bagi orang Sunda karena di sana pernah ditemukan kerangka manusia purba yang konon adalah nenek moyang orang Sunda (masih diteliti di balai Arkeolog Bandung). Gua ini sebenarnya adalah sebuah situs purbakala yang terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, atau sekitar 25 km arah barat Kota Bandung.

Namun sayangnya popularitas Gua Pawon sendiri sebagai sebuah tempat wisata kalah dengan tempat-tempat wisata lainnya yang berada di sekitar Bandung. Misalanya saja oleh Kawah Putih, Tangkuban Perahu ataupun Situ Cibutur yang berada di dekatnya.

Untuk ke Gua Pawon, khusunya untuk yang berdomisili di Bandung atau Jatinangor, sebenarnya tidaklah sulit dan tidak memerlukan biaya yang besar. Kita tinggal naik bus jurusan Jakarta, Cianjur atau Bogor yang melewati Padalarang.

Setelah itu turun di di jalan raya Bandung - Cianjur, tepatnya di daerah Citatah. Tidak sulit ditemukan karena di pinggir jalannya ada plang bertuliskan ’Situs Sejarah Gua Pawon’. Semoga saat teman-teman pas kesana plangnya tidak sedang ambruk. Letaknya tidak jauh setelah melewati Situ Ciburuy. Kalau sama sekali tidak tahu kawasan ini, bisa minta tolong pada kernet bisnya. Ongkos yang harus dikeluarkan juga tidak terlalu mahal. Saat itu kami naik dari Cileunyi dan diharuskan membayar Rp 7.000, mungkin kalau dari Bandung antara Rp 20.000 - Rp 25.000.

Setelah sampai di plang tersebut ada sebuah belokan berupa sebuah jalan panjang yang tidak terlalu besar hanya saja jalanya sudah rusak cukup parah. Mungkin karena banyaknya truk pengangkut batu kapur yang sering pulang pergi lewat jalan itu. Sebenarnya untuk sampai ke Gua Pawon dari jalan tersebut, mempunyai dua pilihan. Pertama, naik ojeg dengan tarif sekitar Rp 10.000,- atau jika ingin merasakan perjalanan yang lebih seru, sebaiknya jalan kaki saja, karena pemandangan yang ditawarkan juga cukup cantik.

Bila ingin berjalan kaki, maka akan menempuh jalan yang berbatu-batu, menanjak dan jauh. Di tambah lagi matahari yang menyengat. Tapi semua itu akan terbayar karena sambil berjalan, bisa merasakan hembusan angin segar dan indahnya tebing di karst Citatah yang meneluarkan semburat emas terekena sinar matahari.

Dalam perjalanan ini, harus banyak bertanya pada warga sekitar karena sama sekali tidak ada papan petunjuk jalan untuk menuju ke Gua Pawon. Setelah berjalan cukup lama dan melewati beberapa tanjakan serta turunan ditambah jalan tanah merah becek barulah sampai di mulut Gua Pawon.

Selain menuju ke Gua Pawon, yang datang ke sini juag bisa memanjat teving di karst Citatah ataupun ke Gunung Masigit, karena kami pun sempat melihat beberapa orang yang sepertinya adalah pecinta alam sedang memanjat tebing.

Indah, eksotis dan misterius. Mungkin itulah kata-kata yang bisa menggambarkan Saat kami sampai ke Gua Pawon. Saat itu kami jadi ingin cepat-cepat masuk ke sana. Sayangnya harus siap-meliahat banyak sekali coretan-coretan pilox yang mengotori plang nama gua tersebut maupun dinding-dinding disekitarnya.

Saat sampai di sana, jangan berpikir kalau akan menemukan penjaga Gua atau orang yang bisa mengajak berkeliling gua. Karena gua tersebut benar-benar sepi. Tidak ada kehidupan manusia. Paling hanya beberapa anak kecil saja yang terkadang lewat.

Kalau berani, bisa langsung masuk dan menjelajahi gua itu sendiri. Namun bila merasa tempat itu sedikit spookey, gelap gulita dan takut tersesat, dapat mencari penduduk sekitar yang bisa dijadikan guide. Waktu itu kebetulan penduduk sekitar sana merekomendasikan kami pada Pak RT setempat, yaitu Pak Koswara. Jadi kalau memang butuh pemandu, tidak ada salahnya mencari Pak Koswara. Cukup bertanya saja ke penduduk sekitar, maka akan diantar ke rumanya.

Saat itu Pak Koswara menawari kami melewati dua jalur untuk sampai ke Gua Pawon. Pertama lewat jalan utama yang tadi sudah kami lewati. Dan yang kedua lewat jalan alternatif di sebelah utara jalan utama. Kata Pak Kosawara, kalau mau menjelajah dan yang lebih dekat dari sawah tempat kami bertemu adalah jalan alternatif, jadi kami pun memilih lewat jalan alternatif saja. Jadi tergantung pada mau melesati jalan yang mana. Apakah ingin aman-aman saja dan melalui multu utama, atau ingin merasakan sedikit jalanan terjal melalui jalan alternatif.

Jalan alternatif yang ditawarkan Pak RT ini memang juara karena sangat terjal dan juga licin, sangat berbeda jauh dengan jalan utama yang kami lewati sebelumnya. Tapi dengan begitu kita bisa merasakan petualangan lebih lho..

Waktu itu kami sempat beberapa kali mengalami kesulitan saat menanjak, mungkin karena sepatu yang kami pakai. Jadi kami saranakan bagi untuk memakai alas kaki yang aman dan nyaman. Pakailah sandal gunung atau sepatu boot. Pokoknya pakai alas kaki yang tidak licin dan nyaman.

Begitu sampai ke mulut gua, akan disambut oleh pandangan yang hebat. Saat itu berarti sudah berada di mulut Gua Poek. Gua ini sering dipakai sebagai tempat bermalam oleh orang yang berkunjung ke Gua Pawon. Di dalamnya terdapat sebuah ruangan yang cukup luas yang memang terlihat seperti sebuah kamar untuk menginap. Menurut Pak RT, dalam legenda orang Sunda (legenda Sangkuriang), gua ini dulunya adalah dapur Dayang Sumbi.

Untuk sampai ke ruang berikutnya yang merupakan ruang utama harus sedikit memanjat dan menyelip di bawah batu besar. Cukup sulit, jadi harus berhati-hati.

Sampai di sisi lain gua, kedatangan kita akan kembali disambut oleh pemandangan yang indah. Ada tiga mulut gua yang seperti mendadahi minta dimasuki, dan ada satu lagi yang letaknya di bawah, jadi seperti kolam kering yang di pojoknya ada sebuah celah besar. Saat berada si sana, kami sarankan mengambil foto yang banyak, karena pemandangannya bagus sekali. Sayang jika tidak diabadikan.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan memasuki mulut gua paling kiri. Gua ini masih temasuk ke dalam bagian dari Gua Lega, karena ruangannya memang nyambung dengan ruangan dari kedua mulut gua yang lainnya, sehingga di namakan sebagai ruang utama.

Di bagian kiri atas gua ini, ada sebuah spot yang dinamakan Sumur Bandung. Sumur Bandung ini sebenarnya bukanlah sebuah sumur, lebih seperti sebuah kolam kecil yang cukup dalam yang tentu aja berisi air. Konon kata Pak RT biasanya orang-orang yang datang kesana itu percaya kalo air dari sumur itu sakti, ya bisa bawa tuah katanya. Menurut Pak RT juga, air sumur itu tidak selalu ada, kadang-kadang saja. Dan kebetulan sekarnag sedang terisi.

Sumur Bandung ini tempatnya cukup tinggi dan jalan kesana total harus memanjat dinding batu yang terjal dan licin. Untuk itu bagi yang memakai sepatu kets biasa, kami sarankan untuk mencopot sepatu saja, karena sangat licin. Dan carilah batu untuk pijakan meloncat ke atas.

Sumur tersebut sebenarnya tidak terlalu besar. Mungkin juga tidak akan bisa melihat seberapa dalam sumur itu karena gelap. Airnya bening dan dingin. Bagai yang percaya bahwa air di sana membawa tuah, bisa membasih muka, tangan atau kaki dengan air itu. Dan tentu saja saran kami jangan lupa foto-foto.

Dari situ bisa terus berjalan ke arah belakang. Menuju sebuah celah besar, tapi sayangnya lagi- lagi di dalam sana harus menemukan banyak sekali coretan-coretan pilox tidak penting yang merusak keindahan gua.

Melewati celah besar itu kita akan kagum melihat pemandangan yang ada di sana. Ada sebuah tebing yang indah sekali. Sebelah kanannya ada sebuah gua kecil yang di depannnya terdapat lokasi penemuan fosil manusia purba. Jadi ternyata gua ini pernah di pakai sebagi tempat tinggal manusia purba, yang konon adalah nenek moyangya orang Bandung.

Di situ kita bisa menikmati indahnya tebing yang menjulang tinggi dengan warna emas kecoklatan, lalu berjalan ke bawah sedikit ada lagi celah di pinggir tebing yang bentuknya seperti sebuah jendela besar bagi Gua Pawon sebagai rumahnya. Menurut Pak RT, tempat ini dinamalakn Gua Kopi karena dulunya di sini banyak pohon kopi yang tumbuh.

Dari sana bisa lanjut ke bagian depan Gua Pawon. Bagian yang pertama kali kami masuki sebelum bertemu Pak RT. Untuk sampai ke sana, harus kembali lagi ke Gua ruang utama dan kali ini berjalan turun ke bawah, ke tempat yang sebelumnya kami sebut sebagai kolam kering dengan celah yang cukup besar di pojoknya.

Setelah melewati celah itu, kita akan sampai di tempat yang di beri plat 'kamar 1'. Disini bau kotoran kelelawar menyengat sekali. Ya, disarankan tidak usah berdiam terlalu lama disini karena banyak kelelawar dan bau kotorannya yang menyengat. Dari situ bisa langsung keluar Gua Pawon melalui mulut utama.

Setelah keluar dari mulut gua itu masuk ke satu gua lagi, yaitu Gua Barong. Gua ini terletak di sebelah kanan jalan masuk utama. Menurut Pak RT, di dalam gua itu banyak benda-benda pusaka yang cukup sacral. Sayangnya saat itu kamiterpaksa menguruhkan niat untuk memasuki gua itu karena trek ke gua itu yang sangat terjal, di tambah hujan turun semakin lebat.

Bila tidak jadi masuk ke Gua Barong, kita bisa melanjutkan perjalanan meliahat pemandangan yang indah dari bukit-bukit di karst Citatah atau bila membawa perlengakapan yang memadai kita bisa lanjut ke Gunung Masigit. Dan jangan lupa memeberikan tip kepada orang yang mengatar kita berkeliling gua, hitung-hitung ucapan terima kasih. Kami waktu itu memberi Pak Koswara lima puluh ribu rupiah, ya sebanding dengan yang kami dapatkan. Karena dia pun rela meninggalkan pekerjaannya di sawah. Heu…

Saran dari kami, bila memang ingin berkunjung ke Gua Pawon atau kawasan karst Citatah lainnya sebaiknya cepat-cepat. Karena yang mengkhawatirkan kami juga, tempat tersebut sebentar lagi terancam bertambah rusak bahkan mungkin akan hancur oleh penambangan fosfat dan batu kapur. Bahkan beberapa lokasi di sekitar gunung Masigit sudah cukup porak poranda dan gundul akibat penggalian.

Ya, semoga saja ini tidak terjadi dan hanya menjadi kekahwatiran kami saja. Jadi untuk yang ingin ke sana, selamat mencoba. Oh ya, daran dari kami lagi, bila punya waktu lebih setelah atau sebelum dari Gua pawon, bisa sekalian menikmati keindahan Situ Ciburuy, jadi sekali mendayung dua pulau terlampaui.

Tempat Wisata Curug Tilu Bandung Barat

Curug Tilu merupakan air terjun yang berada di area wana wisata CIC (Ciwangun Indah Camp), di daerah Parongpong, Lembang, tidak jauh dari Villa Istana Bunga.
Nama Tilu dalam bahasa sunda artinya tiga, dengan demikian nama Curug Tilu kemungkinan berasal dari jumlah tingkatan terjunan air. Ketinggian curug ini berkisar sekitar 10 m dengan lebar sekitar 2 m. Di bagian bawahnya terddapat kolam yang memiliki kedalaman sekitar 3 m. Di atas Curug Tilu ini ke arah bantaran hulu terdapat curug lagi yang bernama Curug Putri Layung yang ukurannya lebih kecil tapi dengan kolam alami yang cukup dalam dan luas.
Selama perjalanan menuju Curug Tilu ini akan ditemui banyak curug-curug kecil yang ketinggian kurang dari 3 m.

 

Lokasi Tempat Wisata Curug Tilu Bandung Barat

Terletak di Kampung Ciwangun, Desa Cihanjuang Rahayu, Kecamatan Parangpong, Kabupaten Bandung Barat, Propinsi Jawa Barat.

Peta dan Koordinat GPS: 6° 47' 25.64" S 107° 34' 54.00" E

 

Aksesbilitas Tempat Wisata Curug Tilu Bandung Barat

Berjarak sekitar 20 km atau 2 jam perjalanan dari pusat kota Bandung. Kondisi jalan menuju kesana relatif bagus dan menanjak hanya beberapa di titik jalan berlubang dan terkelupas aspalnya,

Bila berangkat dari kota Cimahi ambil arah ke Jl. Kolonel Masturi ke arah Parongpong. Jalan masuk ke curug ini terletak di kiri jalan dimana di depannya di tandai Gerbang Wana Wisata CIC. Bagi yang membawa kendaraan sendiri dapat parkir di area yang disediakam di dekat pintu gerbang.masuk. Selanjutnya perjalanan diteruskan dengan menyusuri jalan setapak sejauh kurang lebih 4 km dari pintu gerbang ini. Selama perjalanan diselingi dengan menyeberangi sungai melalui jembatan bambu sekitar 4 atau 5 jembatan.

Bila menggunakan kendaraan umum

 

Fasilitas Tempat Wisata Curug Tilu Bandung Barat

Fasilitas yang tersedia cukup lengkap, hal ini dikarenakan curug ini berada di dalam kawasan yang sering digunakan untuk keperluan outbound keluarga.

Tempat Wisata Curug Sawer Bandung Barat

Curug Sawer adalah air terjun yang berada di Desa Cililin, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Propinsi Jawa Barat pada posisi 6°57'24"S 107°27'39"E. Memiliki beberapa air terjun yang bertingkat. Nama Curug Sawer merupakan legenda bagi masyarakat setempat bagi siapa yang ingin mencari jodoh. Sayangnya obyek wisata ini secara rutin hanya ramai pada hari Minggu dan musim liburan. Hal ini dikarenakan lokasi wisata ini belum maksimal dikembangkan. Selain dimanfaatkan sebagai tempat wisata, tak sedikit juga orang yang datang untuk sekedar berjogging sambil menikmati indahnya panorama alam yang disajikan.

Curug Sawer yang dikelola oleh KPH Perhutani ini memiliki area seluas 7 ha, berada di ketinggian 1700 m (dpl) dengan curah hujan sekitar 4000 mm/tahun.

 

Aksesbilitas Tempat Wisata Curug Sawer Bandung Barat

Objek wisata Curug Sawer ini ditempuh hanya satu jam dari Kota Bandung dengan kendaraan melewati Batujajar setelah tol Padalarang.

Lokasi air terjun tersebut hanya berjarak 2,5 kilometer dari loket pintu masuk. Namun, jalan yang beraspal hanya sekitar 1 kilometer. Sisanya berupa jalan setapak yang menanjak dan berbatu. Satu-satunya penunjuk hanyalah papan nama kayu yang berada di samping jalan untuk masuk ke jalan setapak.

Tempat Wisata Curug Putri Layung Bandung Barat

Curug Putri Layung berada di kaki Gunung Tangkuban Perahu arah sebelah barat, di antara dua buah tebing dan rimbunan kebun pinus.

 

Lokasi Tempat Wisata Curug Putri Layung Bandung Barat

Terletak di Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.
Peta dan Koordinat GPS: 6° 46' 33.36" S 107° 35' 0.41" E

 

Aksesbilitas Tempat Wisata Curug Putri Layung Bandung Barat

Untuk dapat masuk ke tempat ini, dari arah Curug Cimahi (Ciwangun Indah Camp), terus ke arah barat, Jl.Kolonel Masturi. Selanjutnya masuk ke jalan Komando yang mau ke Situ Lembang,

Tempat Wisata Curug Omas Bandung Barat

Curug Omas berada di dalam Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Juanda di lokasi wisata Maribaya. Curug ini memiliki ketinggian terjunan air sekitar 30 meter dengan kedalaman 10 m yang berada di aliran sungai Cikawari. Di atas air terjun ini terdapat jembatan yang dapat digunakan untuk melintas dan melihat air terjun dari posisi atas. Dari atas jembatan ini akan terlihat bentangan dasar sungai yang merupakan pertemuan dua aliran sungai Cikawari dan Cigulun yang nantinya menjadi daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung Hulu. Aliran ini mengalir dan berbelok membelah kawasan Tahura tersebut. Selain Curug Omas di aliran sungai ini terdapat pula Curug Cigulung, Curug Cikoleang, Curug Dago dan Curug Cikawari yang masing-masing berketinggian sekitar 15 m, 16 m dan 14 m. Ketiga curug ini dikenal dengan sebutan Curug Maribaya.

Di kawasan ini juga ada curug lain yaitu Curug Lalay yang lokasinya tak jauh dari Curug Omas.

 

Lokasi Tempat Wisata Curug Omas Bandung Barat

Terletak di Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.

Peta dan Koordinat GPS : 6° 49' 51.64" S 107° 39' 18.45" E

 

Aksesbilitas Tempat Wisata Curug Omas Bandung Barat

Berjarak sekitar 21 km dari Bandung ke sebelah timur Lembang atau sekitar 7 km dari Lembang itu sendiri. Untuk mencapai lokasinya cukup mudah. Ada empat pintu masuk ke curug ini, yaitu Pintu (pos) masuk I dan II di Pakar Dago ditempuh dari arah terminal Dago. Pintu masuk III di Kolam Pakar ditempuh dari arah PLTA Bengkok atau dari Curug Dago. Sedangkan pintu masuk IV berada di Maribaya ditempuh dari arah Lembang. Umumnya Pintu masuk terdekat menuju Curug Omas ini adalah melalui Pintu IV Tahura yang juga dekat dengan lokasi wisata pemandian air panas Maribaya.

Keempat akses pintu masuk ini bisa ditempuh oleh semua jenis kendaraan dengan kondisi jalan sudah beraspal hotmix dan dalam kondisi baik.

Sayangnya di Curug Omas ini pengunjung tidak dapat mendekat secara langsung guna menikmati kesegarannya. Di sekitarnya terdapat pagar besi yang menutupi dan melindunginya. Hal ini dikarenakan cukup berbahaya untuk mendekat, dimana dasar curug ini berada di bawah jembatan dengan banyak batu dan air yang keliatan dalam. Jikalau ingin melihat curug dengan posisi lebih bawah, pengunjung dapat menuruni tanggga-tangga berbbatu yang ada di sebelah kanan jembatan. Setelah sampai di akhir tangga, pada sebelah kanan terdapat jembatan, disini pengunujung dapat melihat curug lebih dekat.

 

Fasilitas Tempat Wisata Curug Omas Bandung Barat

Fasilitas yang tersedia di kawasan ini sangat memprihatinkan. Di sana-sini fasilitas umum dibiarkan rusak dan terbengkalai. Tidak ada perbaikan, apalagi diganti dengan yang baru. Misalnya shelter untuk beristirahat, dibiarkan rusak. Demikian pula jalur pejalan kaki, kondisinya sudah compang-camping dan berlumut. Tak hanya itu, jembatan penyeberangan dan pagar pengaman pun dibiarkan apa adanya, rusak dan terlepas sehingga bisa membahayakan keselamatan para pengunjung. Kondisi panggung gembira apalagi. Awalnya panggung ini dibuat untuk meramaikan objek wisata Maribaya dengan berbagai acara kesenian, namun kini tidak lagi. Kondisinya yang tidak terawat membuat orang enggan memanfaatkan panggung ini.

Kondisi memprihatinkan juga tampak di lingkungan sekitar air terjun yang dipenuhi tumpukan sampah dan limbah yang berasal dari aliran Sungai Cikapundung.

Tempat Wisata Curug Maribaya Bandung Barat

Maribaya terletak di sebelah utara kota Bandung. Tepat nya berada di sebelah timur Lembang. Kawasan ini dulu terkenal dengan pemandian air panas nya. Tapi saat ini yang masih terkenal adalah alam nya yang masih asri dan menyatu dengan kawasan Taman Hutan Raya Djuanda.

Untuk menuju ke sini bisa dari arah kota Bandung atau bisa juga dari arah kota Subang. Saya sengaja ambil yang dari kota Subang karena memang sekalian mau ke Tangkuban Parahu. Jalur ini memang menjadi jalur alternatif menuju Bandung dan pemandangan di kiri kanannya yang enak dilihat.

Seperti biasa sebelum melakukan perjalanan, saya mencari cari dulu sebanyak mungkin informasi. Baik informasi tentang rute nya atau fasilitas dari tempat yang akan kita kunjungi. Ini semua agar perjalanan jadi efisien.

Dari informasi yang didapat, baik berupa tulisan atau gambar dari internet, Maribaya adalah kawasan wisata alam yang dulunya terkenal dengan pemandian air panasnya. Tapi saat ini yang paling dikenal adalah adanya curug / air terjun yang ada di beberapa tempat di lokasi ini. Juga keadaan yang masih alami dengan pohon-pohon yang tinggi dan tentu saja udara yang segar.

Saya dan keluarga memulai perjalanan dari Bekasi berangkat jam 6 pagi. Dengan harapan kalau berangkat agak pagi nanti jalan tol tidak terlalu padat. Pengalaman sebelumnya kalau weekend apalagi long weekend kalau sudah agak siang arus lalu lintas padat. Bahkan cenderung macet.

Kali ini perjalanan rencananya akan melewati jalur tol Cikampek – Cipularang – keluar di Sadang. Dari Sadang – Subang – Ciater – Lembang. Jalur ini biasanya menjadi jalur alternatif ke Bandung, selain lewat tol Cipularang langsung ke Bandung. Disamping karena untuk menghindari kemungkinan macet di Cipularang - saat saya pergi ini adalah long weekend – juga di jalur ini pemandangannya bagus dan yang lebih penting lagi dekat dengan lokasi yang akan kami tuju.

Perjalanan di tol Cikampek lancar. Ada sedikit kepadatan di beberapa tempat, tapi umumnya lancar. Begitu juga di tol Cipularang keluar di Sadang, perjalanan lancar. Sementara jalur Sadang ke Subang umumnya lancar. Cuma kadang-kadang harus mengurangi kecepatan karena ada jalan yang menyempit atau rusak. Atau juga karena angkot yang jalannya agak pelan dan kadang-kadang berhenti mendadak

Perjalanan mulai mengasyikan saat melintas dari kota Subang menuju ke Ciater. Jalanan yang naik turun enak dilewati karena mulus. Pemandangan di kiri kanan juga enak dilihat. Banyak penjual buah nanas yang menggantungnya di depan kios yang memang merupakan ciri khas jalanan sini. Buah nanas dari Subang, tepatnya di sekitar Jalan Cagak terkenal berbentuk besar, airnya banyak dan manis.

Jalanan mulus dan naik turun seperti ini terus sampai ke daerah Ciater. Selepas Ciater jalanan juga mulus tapi mulai banyak tanjakan yang lumayan curam dan panjang. Melewati sini mobil harus sehat. Kalau tidak akan lelet saat menanjak dan bahkan mesin bisa kepanasan (overheat). Beberapa kali terlihat mobil yang berhenti di pinggir jalan dan ngebul radioatornya.

Walaupun begitu di jalur ini kita dimanjakan dengan hamparan luas kebun teh di kiri kanan jalan. Banyak bis wisata dari arah berlawanan yang parkir di pinggir jalan ini. Terlihat juga beberapa rombongan turis dari luar negeri yang sedang asik menikmati hijaunya kebun teh dan berfoto.

Perjalanan dengan banyak tanjakan dan hamparan hijaunya kebun teh sudah mulai berkurang. Sekarang sudah mulai berganti dengan pemandangan pepohonan di kiri kanan jalan. Satu dua bangunan juga mulai terlihat. Ini pertanda sudah hampir mendekati Lembang. Saya mengurangi kecepatan mobil sambil memperhatikan kiri kanan untuk mencari jalan yang ke arah Tangkuban Parahu. Saya ternyata terlewat, karena jalan ke Tangkuban Parahu kalau dari arah Ciater tidak terlalu jelas terlihat. Papan penunjuk pun minim dan tertutup oleh spanduk-spanduk dan baliho entah untuk acara apa. Akhirnya diputuskan untuk ke Maribaya dulu lalu siangnya ke Tangkuban Parahu.

Sesampainya di Lembang, di pertigaan ada petunjuk jalan kalau ke Maribaya ambil jalan yang ke kiri. Tertulis jaraknya 4 km dari pertigaan Lembang. Saya mengikuti petunjuk arah itu. Jalanan ke kiri ini makin ke dalam makin menyempit. Disana-sini banyak jalan bergelombang. Sepintas disini seperti jalan lingkungan perumahan.

Setelah ketemu tempat wisata ala koboy, De Ranch, masih jalan lurus. Ikuti saja jalan yang makin lama makin menurun dan berkelok, tapi tetap bergelombang. Mobil saya yang kemarin sesekali bunyi kriyet, disini makin sering bunyinya akibat melewati jalan berbatu. Setelah melewati turunan yang agak curam, nanti di sebelah kanan ketemu dengan parkiran khusus bus. Saya masih terus. Sepertinya sudah hampir sampai di kawasan wisata Maribaya.

Saat mau masuk ke loket pertama, karena agak padat saya diarahkan untuk ke loket kedua. Jaraknya masih beberapa ratus meter dari situ. Ketemu loket kedua dan membayar tiket masuk saya langsung menuju ke parkiran mobil dari pintu loket kedua ini. Walau sudah agak senior (baca: bapak-bapak) tapi petugas loketnya melayani dengan ramah.

Di parkiran ini tidak banyak mobil pribadi yang parkir. Hanya terlihat 1-2 saja. Saya sampai di lokasi sekitar jam 11 siang. Saya mulai mencari petunjuk dimana tempat-tempat yang menarik di sekitar sini. Ada semacam penunjuk ke arah curug Omas yang merupakan curug terbesar di kawasan Maribaya ini. Saya hampir selalu milihat foto curug Omas ini saat membaca informasi seputar Maribaya. Berarti memang curug ini terkenal. Sebenarnya di sini bukan hanya ada curug Omas, di dekat saya parkir ini ada juga beberapa curug, walau memang agak kecil. Jadi kurang menarik orang untuk melihatnya. Saya pun juga tidak melihat curug-curug ini. Saya ingin terlebih dahulu ke curug Omas.

Dari petunjuk dipasang di pohon, curug Omas berjarak sekitar 200 meter dari tempat saya parkir. Saya pun langsung menuju ke sana. Melewati jalan setapak dan agak sedikit menanjak. Saya berbarengan dengan pengunjung lain yang juga banyak mengarah dari dan ke arah curug Omas ini.

Cuma saya agak kaget, ternyata kalau mau masuk curug Omas dari Maribaya harus membayar karcis lagi. Saya coba tanyakan ke petugas loket kenapa harus bayar lagi, kan tidak jauh dari Maribaya. Dijawab karena curug Omas masuk kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Jadi harus membayar tiket untuk masuk kawasan itu. Ya akhirnya saya masuk juga ke arah curug Omas.

Dari loket Taman Hutan Raya ini jalan menuju ke curug Omas agak bagus. Jalanan dibuat berundak dari semen dan batu-batu kecil dan di salah satu sisinya diberi pagar besi. Disamping bisa untuk menjaga agar tidak terjatuh ke samping, pagar ini bisa juga sebagai pegangan. Jalanan licin kalau agak basah. Apalagi jalanan menuju ke curug agak menanjak lalu menurun saat mendekati curug. Jadi harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset.

Bunyi air terjun yang khas sudah terdengar makin keras. Dan orang-orang yang mendekati curug juga sudah banyak. Kami sepertinya berbarengan dengan rombongan anak-anak sekolah dari luar daerah.

Ada beberapa anak kecil dan ibu-ibu yang menawarkan untuk menyewa tikar. Saya belum berminat untuk duduk-duduk. Saya masih ingin melihat curug dari berbagai titik.

Dari beberapa tulisan blog ada yang menulis kalau warna air di curug Omas ini keruh, ada sampah dan bahkan berbau. Itu katanya kejadian beberapa tahun lalu. Tapi saat saya berkunjung untungnya tidak mengalami hal itu. Air sungai memang tidak terlalu bening, hanya kecoklatan. Tapi tidak ada bau yang tidak sedap karena kotornya air. Sampah pun saya lihat terlalu terlihat. Malah terlihat putih saat air terjun dari ketinggian dan menimpa air yang dibawahnya. Ini menimbulkan butiran-butiran air yang lembut dan terbawa angin ke atas.

Yang juga menarik adalah curug ini dipasang jembatan di atasnya. Sehingga kita bisa melihat langsung air yang terjun deras ke bawah tepat dari atasnya. Sepertinya enak melintasi jembatan sambil melihat ke bawah air yang terjun dari ketinggian. Saya pun, seperti juga pengunjung yang lain ingin mencobanya. Baru melewati sedikit bagian jembatan saja sudah mulai deg-degan. Terpikir dengan kayu-kayunya yang selalu lembab takut sudah lapuk. Apalagi saat di sela-sela kayu itu melihat ke bawah, melihat air yang jatuh dengan derasnya makin membuat deg-degan. Saya tidak meneruskan melihat ke bawah dan langsung saja jalan pelan-pelan ke ujung jembatan. Apalagi jembatan terasa seperti bergoyang-goyang yang makin membuat deg-degan. Jembatan bergoyang-goyang karena di belakang saya sepertinya banyak yang berbarengan memasuki jembatan. Dan pantesan saja bergoyang, saat saya sampai di ujung dan membaca tulisan di besi jembatan, ternyata disarankan maksimal 5 orang saat melewati jembatan ini. Mestinya pengunjung mengikuti saran yang tertulis pada jembatan itu agar pengunjung lain merasa nyaman.

Setelah sampai ujung jembatan saya menuju ke arah bawah. Disana juga disediakan jembatan untuk melihat curug dari bawah. Dari sini pemandangan curug lebih enak dilihatnya. Apalagi ditambah dengan semacam kabut yang pelan-pelan naik ke atas akibat deburan air ke bawah, makin menambah enak dilihat. Tapi harus siap-siap basah kalau deburan air tadi makin banyak dan terkena angin. Bisa seperti hujan lokal.

Lalu kami naik ke atas lagi di posisi saat datang. Di sini juga ada lapangan rumput yang luas dan di tengahnya ada semacam monumen. Agak ke atas berderet warung-warung berbagai makanan dan minuman. Kadang-kadang terlihat juga monyet yang sedang mencari makan. Tapi sayangnya di sekitar lapangan ini tidak disediakan tempat duduk yang memadai. Jadinya tidak bisa sekedar melemaskan kaki yang sudah gempor sejak berjalan menuju ke sini dan berjalan-jalan disini. Kecuali mau menyewa tikar yang memang dari sejak datang tadi ditawarkan.

Saya mencoba lagi menyeberangi curug lewat jembatan yang di atas. Kali ini saya mencoba ke arah atas dimana terdapat papan penunjuk ke goa Belanda dan goa Jepang. Tapi sayangnya jaraknya jauh dari sini, sekitar 5 km. Jadinya saya tidak mencoba ke arah goa-goa itu. Cuma mencoba naik ke atas lagi sekedar lihat-lihat hutan. Jalanan ke atas sini lebih menanjak dibanding yang sebelumnya. Hingga membuat kaki makin terasa pegal. Di atas sini juga banyak rombongan yang sedang berjalan juga. Di kiri kanan jalan ini ada tulisan nama pada pohon yang tumbuh. Jadi bisa membuat pengunjung tahu nama pohon.

Karena sudah makin pegal kaki, kami pun akhirnya kembali lagi ke parkiran. Istirahat sebentar sambil makan tahu goreng panas dan bakwan yang dijual di dekat kami parkir. Waktu menunjukkan sekitar jam 1 siang. Dan sepertinya masih cukup waktu untuk lanjut ke Tangkuban Parahu.

Sebenarnya masih banyak yang masih bisa dinikmati di Maribaya ini. Seperti misalnya mencoba tempat pemandian air panas yang dulunya terkenal. Curug-curug kecil yang ada di antara baru masuk Maribaya hingga ke arah hutan kota. Sementara untuk Hutan Raya Juanda saya baru mengunjungi curug Omas. Sepertinya masih ada curug-curug lain dan goa-goa bersejarah. Sayangnya tempat itu terlalu jauh dari Maribaya. Mungkin suatu saat akan saya kunjuni lagi dari arah Dago Pakar. Syukur-syukur bisa sambil bertualang jalan kaki melintasi hutan kota yang rindang dan udara yang segar.

Fasilitas di Maribaya ini perlu diperbaiki, misalnya toilet yang seadanya. Kurangnya tempat untuk duduk-duduk dan berkumpul, yang ada sekarang cuma lapangan terbuka saja. Tempat-tempat makan dan minum yang menarik minat untuk membelinya. Mungkin perlu juga diadakan penginapan yang nyaman sehingga makin menarik pengunjung untuk ke Maribaya.

Tempat Wisata Curug Malela Bandung Barat

Curug Malela yang dalam bahasa Indonesia berarti Air Terjun Malela, terletak di Desa Cicadas, Kecamatan Rongga – Gununghalu Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Hulu sungai berasal dari lereng utara Gunung Kendeng, gunung berapi yang terletak di sebelah barat Ciwidey yang telah mati, mengalir melalui Sungai Cidadap – Gununghalu.

Curug Malela ini memiliki ketinggian sekitar 60-70 meter dan mempunyai lima buah jalur air terjun yang seakan-akan mengingatkan kita kepada yang maha pencipta agar tidak melu

pakan shalat 5 (lima) waktu. Jika debit air sedang deras maka akan terlihat kemegahannya yang mempesona, bahkan kalau dilihat dari kejauhan terkesan seperti benang-benang sutra halus. Disebelah kanan terlihat sebuah tebing yang cukup tinggi berwarna putih yang mengarah ke bawah. Ada kemungkinan bahwa dulunya dinding ini juga sebuah air terjun. Jika memang demikian, dapat dibayangkan betapa indah dan megahnya Curug Malela ini. Sebuah surga tersembunyi yang nyaris terisolir dari peradaban dan bagaikan harta karun yang belum digarap secara optimal.

Tempat Wisata Curug Lalay Bandung Barat

Curug Lalay adalah rangkain akhir dari beberapa curug yang mengalir dari Sungai Cimahi. Jika diurut dari hulu ke hilir, beberapa curug tersebut adalah Curug Putri Layung, Curug Tilu, Curug Bugbrug, Curug Cimahi, Curug Panganten, dan Curug Lalay. Sumber mata air kelima curug tersebut beradal dari lereng Gunung Tangkuban Perahu yang berketinggian sekitar 1800 m dpl.

Curug ini memiliki ketinggian sekitar 30 m saja dan tersembunyi di lembah. Di sisi kiri curug terdapat sebuah cerukan yang menyerupai goa, dimana di dinding goa ini banyak terdapat hewan Lalay yang berarti kelelawar dalam bahasa sunda, yang mana nama tersebut diambil.

 

Lokasi Tempat Wisata Curug Lalay Bandung Barat

Terletak di Desa Bonggol, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Propinsi Jawa Barat.

 

Aksesbilitas Curug Lalay Bandung Barat

Untuk menuju ke lokasi ini tidak lah mudah karena curug ini tidak seterkenal curug yang lain dan jarang dikunjungi. Selain akses jalan menuju kesana minim, juga tidak adanya papan penunjuk. Satu-satunya penanda yang bisa diandalkan adalah plang Madrasah Ibtidaiyah Cisasawi, Desa Cihanjuang, Kecamatan Parongpong. Selain itu dianjurkan untuk banyak bertanya pada penduduk setempat keberadaan curug tersebut.

Kondisi jalan menuju kesana hanya dengan berjalan kaki melewati kebun penduduk, menyusuri sungai dan naik turun bukit dan lembah.

Bila perjalanan dari kota Cimahi di Terminal pasar Atas naik angkot berwarna kuning jurusan Pasar Atas - Ciuyah. Turun sebelum kantor lurah Ciutah, Citeureup Cimahi Utara dengan ongkos Rp 2500. Selanjutnya perjalanan diteruskan dengan berjlan kaki melewati jalan setapak yang di sisi kiri-kanannya adalah persawahan dan kebun sayuran hingga bertemu aliran sungai dan pintu air. Dari pintu air ini ikuti jalan saja ke arah hulu hingga mentok ke Curug Lalay berada, Waktu tempuh sekitar 1,5 jam

Tempat Wisata Curug Bugbrug Bandung Barat

Kata bugbrug adalah kata bahasa Sunda yang berarti bertumpuk atau bertumpang-tindih. Bisa jadi curug ini dinamai Curug Bugbrug karena air yang jatuh dari curug ini terlihat seperti bertumpuk-tumpuk (ngabugbrug, dalam bahasa Sunda).

Ada kolam besar atau kubangan air yang jernih dan tenang (kedalaman sekitar 3-4 meter) tempat penampungan jatuhnya air curug.

Dibandingkan dengan tetangganya, Curug Cimahi, agaknya Curug Bugbrug masih kalah populer. Itulah sebabnya hingga kini tidak begitu banyak orang yang datang ke curug ini. Curug ini berada di ketinggian sekirar 1.050 meter di atas permukaan laut (dpl).

 

Lokasi Tempat Wisata Curug Bugbrug Bandung Barat

Terletak di Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Propinsi Jawa Barat. Lokasi curug ini tidak begitu jauh dari Curug Cimahi yang berdekatan dengan Terminal Cisarua.

Peta dan Koordinat GPS: 6°47'31"S 107°34'48"E

 

Aksesbilitas Tempat Wisata Curug Bugbrug Bandung Barat

Untuk menuju Curug Bugbrug ini dapat ditempuh dari arah Curug Cimahi, dengan berjalan ke arah timur dan kemudian (persis di dekat sebuah jembatan) berbelok ke arah utara menyusuri jalan setapak, melewati ladang-ladang dan perkebunan selada air. Curug ini berada persis di sudut sebuah tebing patahan lembang.

Selain dari arah Curug Cimahi, bisa juga dari arah Terminal Parongpong dengan terlebih dahulu masuk melewati kompleks Vila Bunga. Selanjutnya dari belakang Vila Bunga berjarak sekitar 300-an meter dengan terlebih dahulu melewati jalan besar dan setapak.

Di musim penghujan, jalan menuju Curug Bugbrug, yang sebagian besar masih berupa tanah menjadi sangat becek dan berlumpur. Jadi, sebaiknya menggunakan boot atau sendal jepit saja jika mau berkunjung ke Curug Bugbrug.

 

Fasilitas Tempat Wisata Curug Bugbrug Bandung Barat

Di sekitar curug, terutama di sisi barat terdapat beberapa saung yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk bersantai dan menikmati panorama curug dari arah sebelah atas. Sebuah mushala dan WC sederhana juga berdiri di sana.

Sementara itu, sejumlah batu kali besar menghiasi sisi timur curug. Batu-batu besar ini sering dipilih sebagai tempat berdiri atau duduk para pengunjung tatkala berpose untuk berfoto-ria. Juga di depan curug itu sendiri, terdapat titian dari kayu dan bambu sederhana yang dapat digunakan sebagai tempat duduk santai sembari menatap ke arah curug yang berada persis di depan.

Tempat Wisata Kebun Binatang Bandung

Kebun Binatang Bandung merupakan salah satu obyek wisata alam flora dan fauna di Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

 

Sejarah Kebun Binatang Bandung

Tempat Wisata Kebun Binatang Bandung ini pada awalnya dikenal dengan nama Derenten (dalam bahasa sunda, dierentuin) yang artinya kebun binatang. Kebun Binatang Bandung didirikan pada tahun 1930 oleh Bandung Zoological Park (BZP), yang dipelopori oleh Direktur Bank Dennis, Hoogland. Pengesahan pendirian Kebun Binatang ini diwenangi oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan pengesahannya dituangkan pada keputusan 12 April 1933 No.32. Pada saat Jepang menguasai daerah ini, tempat wisata ini kurang terkelola, hingga pada tahun 1948, dilakukan rehabilitasi untuk mengembalikan fungsi tempat wisata ini.

Pada tahun 1956, atas inisiatif dari R. Ema Bratakoesoema, Bandung Zoological Park dibubarkan dan berganti menjadi Yayasan Marga Satwa Tamansari pada tahun 1957.

 

Berbagai wahana rekreasi di Kebun Binatang Bandung

  • Flying fox
  • Taman bermain
  • Kolam untuk perahu dan perahu bebek



Fungsi Kebun Binatang Bandung bagi masyarakat

  • Fungsi kebudayaan. Kebun Binatang Bandung sebagai tempat rekreasi yang didalamnya terdapat wahana pergelaran seni budaya, tentunya mempunyai fungsi kebudayaan, yaitu dapat menanamkan kesadaran dan rasa cinta tanah air melalui pengamatan dan pemahaman kekayaan budaya, serta pengamatan dan pemahaman kekayaan flora dan fauna.
  • Fungsi pendidikan dan Iptek. Kebun Binatang Bandung merupakan sebuah wahana yang dapat dimanfaatkan oleh kalangan edukatif untuk menambah pengetahuan dan untuk menghasilkan butir-butir pengetahuan baru yang bermanfaat dan berguna bagi kehidupan masyarakat. Kebun Binatang Bandung ini juga dapat dimanfaatkan sebagai obyek riset atau penelitian di berbagai keilmuan.
  • Fungsi perlindungan dan pelestarian kekayaan alam. Kebun Binatang Bandung sebagai tempat dimana wahana flora dan fauna dikembangkan dan dilestarikan, berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan berbagai satwa flora dan fauna dengan tujuan menjaga kekayaan alam.
  • Fungsi rekreasi. Kebun binatang bandung tentunya mempunyai fungsi sebaga tempat rekreasi bagi masyarakat.

Tempat Wisata Gedung Sate Bandung

Gedung Sate, dengan ciri khasnya berupa ornamen tusuk sate pada menara sentralnya, telah lama menjadi penanda atau markah tanah Kota Bandung yang tidak saja dikenal masyarakat di Jawa Barat, namun juga seluruh Indonesia bahkan model bangunan itu dijadikan pertanda bagi beberapa bangunan dan tanda-tanda kota di Jawa Barat. Misalnya bentuk gedung bagian depan Stasiun Kereta Api Tasikmalaya. Mulai dibangun tahun 1920, gedung berwarna putih ini masih berdiri kokoh namun anggun dan kini berfungsi sebagai gedung pusat pemerintahan Jawa Barat.

Gedung Sate yang pada masa Hindia Belanda itu disebut Gouvernements Bedrijven (GB), peletakan batu pertama dilakukan oleh Johanna Catherina Coops, puteri sulung Walikota Bandung, B. Coops dan Petronella Roelofsen, mewakili Gubernur Jenderal di Batavia, J.P. Graaf van Limburg Stirum pada tanggal 27 Juli 1920, merupakan hasil perencanaan sebuah tim yang terdiri dari Ir.J.Gerber, arsitek muda kenamaan lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks serta pihak Gemeente van Bandoeng, diketuai Kol. Pur. VL. Slors dengan melibatkan 2000 pekerja, 150 orang diantaranya pemahat, atau ahli bongpay pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan Cina yang berasal dari Konghu atau Kanton, dibantu tukang batu, kuli aduk dan peladen yang berasal dari penduduk Kampung Sekeloa, Kampung Coblong Dago, Kampung Gandok dan Kampung Cibarengkok, yang sebelumnya mereka menggarap Gedong Sirap (Kampus ITB) dan Gedong Papak (Balai Kota Bandung).

Selama kurun waktu 4 tahun pada bulan September 1924 berhasil diselesaikan pembangunan induk bangunan utama Gouverments Bedrijven, termasuk kantor pusat PTT (Pos, Telepon dan Telegraf) dan Perpustakaan.

Arsitektur Gedung Sate merupakan hasil karya arsitek Ir. J.Gerber dan kelompoknya yang tidak terlepas dari masukan maestro arsitek Belanda Dr.Hendrik Petrus Berlage, yang bernuansakan wajah arsitektur tradisional Nusantara.

Banyak kalangan arsitek dan ahli bangunan menyatakan Gedung Sate adalah bangunan monumental yang anggun mempesona dengan gaya arsitektur unik mengarah kepada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa, (Indo Europeeschen architectuur stijl), sehingga tidak mustahil bila keanggunan Candi Borobudur ikut mewarnai Gedung Sate.

Beberapa pendapat tentang megahnya Gedung Sate diantaranya Cor Pashier dan Jan Wittenberg dua arsitek Belanda, yang mengatakan "langgam arsitektur Gedung Sate adalah gaya hasil eksperimen sang arsitek yang mengarah pada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa".

D. Ruhl dalam bukunya Bandoeng en haar Hoogvlakte 1952, "Gedung Sate adalah bangunan terindah di Indonesia".

Ir. H.P.Berlage, sewaktu kunjungan ke Gedung Sate April 1923, menyatakan, "Gedung Sate adalah suatu karya arsitektur besar, yang berhasil memadukan langgam timur dan barat secara harmonis". Seperti halnya gaya arsitektur Italia pada masa renaiscance terutama pada bangunan sayap barat. Sedangkan menara bertingkat di tengah bangunan mirip atap meru atau pagoda. Masih banyak lagi pendapat arsitek Indonesia yang menyatakan kemegahan Gedung Sate misalnya Slamet Wirasonjaya, dan Ir. Harnyoto Kunto.

Kuat dan utuhnya Gedung Sate hingga kini, tidak terlepas dari bahan dan teknis konstruksi yang dipakai. Dinding Gedung Sate terbuat dari kepingan batu ukuran besar (1 × 1 × 2 m) yang diambil dari kawasan perbukitan batu di Bandung timur sekitar Arcamanik dan Gunung Manglayang. Konstruksi bangunan Gedung Sate menggunakan cara konvensional yang profesional dengan memperhatikan standar teknik.

Gedung Sate berdiri diatas lahan seluas 27.990,859 m², luas bangunan 10.877,734 m² terdiri dari Basement 3.039,264 m², Lantai I 4.062,553 m², teras lantai I 212,976 m², Lantai II 3.023,796 m², teras lantai II 212.976 m², menara 121 m² dan teras menara 205,169 m².

Gerber sendiri memadukan beberapa aliran arsitektur ke dalam rancangannya. Untuk jendela, Gerber mengambil tema Moor Spanyol, sedangkan untuk bangunannya dalah Rennaisance Italia. Khusus untuk menara, Gerber memasukkan aliran Asia, yaitu gaya atap pura Bali atau pagoda di Thailand. Di puncaknya terdapat "tusuk sate" dengan 6 buah ornamen sate (versi lain menyebutkan jambu air atau melati), yang melambangkan 6 juta gulden - jumlah biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate.

Fasade (tampak depan) Gedung Sate ternyata sangat diperhitungkan. Dengan mengikuti sumbu poros utara-selatan (yang juga diterapkan di Gedung Pakuan, yang menghadap Gunung Malabar di selatan), Gedung Sate justru sengaja dibangun menghadap Gunung Tangkuban Perahu di sebelah utara.

Dalam perjalanannya semula diperuntukkan bagi Departemen Lalulintas dan Pekerjaan Umum, bahkan menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda setelah Batavia dianggap sudah tidak memenuhi syarat sebagai pusat pemerintahan karena perkembangannya, sehingga digunakan oleh Jawatan Pekerjaan Umum. Tanggal 3 Desember 1945 terjadi peristiwa yang memakan korban tujuh orang pemuda yang mempertahankan Gedung Sate dari serangan pasukan Gurkha. Untuk mengenang ke tujuh pemuda itu, dibuatkan tugu dari batu yang diletakkan di belakang halaman Gedung Sate. Atas perintah Menteri Pekerjaan Umum pada tanggal 3 Desember 1970 Tugu tersebut dipindahkan ke halaman depan Gedung Sate.

Gedung Sate sejak tahun 1980 dikenal dengan sebutan Kantor Gubernur karena sebagai pusat kegiatan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yang sebelumnya Pemerintahaan Provinsi Jawa Barat menempati Gedung Kerta Mukti di Jalan Braga Bandung.

Ruang kerja Gubernur terdapat di lantai II bersama dengan ruang kerja Wakil Gubernur, Sekretaris Daerah, Para Assisten dan Biro. Saat ini Gubernur di bantu oleh tiga Wakil Gubernur yang menangani Bidang Pemerintahan, Bidang Ekonomi dan Pembangunan, serta Bidang Kesejahteraan Rakyat, seorang Sekretaris Daerah dan Empat Asisten yaitu Asisten Ketataprajaan, Asisten Administrasi Pembangunan, Asisten Kesejahteraan Sosial dan Asisten Administrasi.

Namun tidak seluruh Asisten menempati Gedung Sate. Asisten Kesejahteraan Sosial dan Asisten Administrasi bersama staf menempati Gedung Baru.

Di bagian timur dan barat terdapat dua ruang besar yang akan mengingatkan pada ruang dansa (ball room) yang sering terdapat pada bangunan masyarakat Eropa. Ruangan ini lebih sering dikenal dengan sebutan aula barat dan aula timur, sering digunakan kegiatan resmi. Di sekeliling kedua aula ini terdapat ruangan-ruangan yang ditempati beberapa Biro dengan Stafnya.

Paling atas terdapat lantai yang disebut Menara Gedung Sate, lantai ini tidak dapat dilihat dari bawah, untuk menuju ke lantai teratas menggunakan Lift atau dengan menaiki tangga kayu.

Kesempurnaan megahnya Gedung Sate dilengkapi dengan Gedung Baru yang mengambil sedikit gaya arsitektur Gedung Sate namun dengan gaya konstektual hasil karya arsitek Ir.Sudibyo yang dibangun tahun 1977 diperuntukkan bagi para Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai Lembaga Legislatif Daerah.

Gedung Sate telah menjadi salah satu tujuan obyek wisata di kota Bandung. Khusus wisatawan manca negara banyak dari mereka yang sengaja berkunjung karena memiliki keterkaitan emosi maupun history pada Gedung ini. Keterkaitan emosi dan history ini mungkin akan terasa lebih lengkap bila menaiki anak tangga satu per satu yang tersedia menuju menara Gedung Sate. Ada 6 tangga yang harus dilalui dengan masing-masing 10 anak tangga yang harus dinaiki.

Keindahan Gedung Sate dilengkapi dengan taman disekelilingnya yang terpelihara dengan baik, tidak heran bila taman ini diminati oleh masyarakat kota Bandung dan para wisatawan baik domestik maupun manca negara. Keindahan taman ini sering dijadikan lokasi kegiatan yang bernuansakan kekeluargaan, lokasi shooting video klip musik baik artis lokal maupun artis nasional, lokasi foto keluarga atau foto diri bahkan foto pasangan pengantin.

Khusus di hari minggu lingkungan halaman Gedung Sate dijadikan pilihan tempat sebagian besar masyarakat untuk bersantai, sekedar duduk-duduk menikmati udara segar kota Bandung atau berolahraga ringan.

Membandingkan Gedung Sate dengan bangunan-bangunan pusat pemerintahan (capitol building) di banyak ibukota negara sepertinya tidak berlebihan. Persamaannya semua dibangun di tengah kompleks hijau dengan menara sentral yang megah. Terlebih dari segi letak gedung sate serta lanskapnya yang relatif mirip dengan Gedung Putih di Washington, DC, Amerika Serikat. Dapat dikatakan Gedung Sate adalah "Gedung Putih"nya kota Bandung.

Foto Gedung Sate Tempo Doeloe
Gedung Sate Tempo Doeloe

Foto Tempat Wisata Gedung Sate Bandung
Tempat Wisata Gedung Sate Bandung

Tempat Wisata Ranca Upas Ciwidey Bandung

Ranca Upas atau Kampung Cai Ranca Upas adalah salah satu bumi perkemahan di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Terletak di Jalan Raya Ciwidey Patenggang KM. 11, Alam Endah, Ciwidey Kabupaten Bandung, dengan jarak sekitar 50 km dari pusat Kota Bandung.

Memiliki luas area sekitar 215 Hektar, berada pada 1700 meter di atas permukaan laut, dengan suhu udara sekitar 17°C - 20°C. Sekitar area, oleh hutan lindung dengan beragam flora seperti Pohon Huru, Hamirug, Jamuju, Kihujan, Kitambang, Kurai, Pasang dan Puspa. Sedangkan fauna terdiri dari beragam jenis burung, serta beberapa satwa jinak lainnya.[1]

Fasilitas Tempat Wisata Ranca Upas Ciwidey Bandung

 Fasilitas yang tersedia di Tempat Wisata Ranca Upas adalah sebagai berikut:
  • Adventure
  • Kolam Renang Air Hangat
  • War Games
  • ATV
  • Kolam Renang Waterboom
  • Water Games
  • Camping Ground
  • Outdoor Gathering
  • Fun Games
  • Penangkaran Rusa
Foto Tempat Wisata Ranca Upas Ciwidey Bandung
Tempat Wisata Ranca Upas Ciwidey

Tempat Wisata Jalan Braga Bandung

Jalan Braga adalah nama sebuah jalan utama di kota Bandung, Indonesia. Nama jalan ini cukup dikenal sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda. Sampai saat ini nama jalan tersebut tetap dipertahankan sebagai salah satu maskot dan obyek wisata kota Bandung yang dahulu dikenal sebagai Parijs van Java.

 

Lingkungan Jalan Braga Bandung

Di sisi kanan kiri Jalan Braga terdapat kompleks pertokoan yang memiliki arsitektur dan tata kota yang tetap mempertahankan ciri arsitektur lama pada masa Hindia Belanda. Tata letak pertokoan tersebut mengikuti model yang ada di Eropa sesuai dengan perkembangan kota Bandung pada masa itu (1920-1940-an) sebagai kota mode yang cukup termasyhur seperti halnya kota Paris pada saat itu. Di antara pertokoan tersebut yang masih mempertahankan ciri arsitektur lama adalah pertokoan Sarinah, Apotek Kimia Farma dan Gedung Merdeka (Gedung Asia Afrika yang dulunya adalah gedung Societeit Concordia). Model tata letak jalan dan gedung gedung pertokoan dan perkantoran yang berada di Jalan Braga juga terlihat pada model jalan-jalan lain di sekitar Jalan Braga seperti Jalan Suniaraja (dulu dikenal sebagai Jalan Parapatan Pompa) dan Jalan Pos Besar (Postweg)('sekarang Jalan Asia-Afrika') yang dibangun oleh Gubernur Jendral Herman Willem Daendels pada tahun 1811, di depan Gedung Merdeka.

 

Sejarah Jalan Braga Bandung

Awalnya Jalan Braga adalah sebuah jalan kecil di depan pemukiman yang cukup sunyi sehingga dinamakan Jalan Culik karena cukup rawan, juga dikenal sebagai Jalan Pedati (Pedatiweg) pada tahun 1900-an. Jalan Braga menjadi ramai karena banyak usahawan-usahawan terutama berkebangsaan Belanda mendirikan toko-toko, bar dan tempat hiburan di kawasan itu seperti toko Onderling Belang. Kemudian pada dasawarsa 1920-1930-an muncul toko-toko dan butik (boutique) pakaian yang mengambil model di kota Paris, Perancis yang saat itu merupakan kiblat model pakaian di dunia. Dibangunnya gedung Societeit Concordia yang digunakan untuk pertemuan para warga Bandung khususnya kalangan tuan-tuan hartawan, Hotel Savoy Homann, gedung perkantoran dan lain-lain di beberapa blok di sekitar jalan ini juga meningkatkan kemasyhuran dan keramaian jalan ini.

Namun sisi buruknya adalah munculnya hiburan-hiburan malam dan kawasan lampu merah (kawasan remang-remang) di kawasan ini yang membuat Jalan Braga sangat dikenal turis. Dari sinilah istilah kota Bandung sebagai kota kembang mulai dikenal. Sehingga perhimpunan masyarakat warga Bandung saat itu membuat selebaran dan pengumuman agar "Para Tuan-tuan Turis sebaiknya tidak mengunjungi Bandung apabila tidak membawa istri atau meninggalkan istri di rumah".

Di beberapa daerah dan kota-kota yang berdiri serta berkembang pada masa Hindia Belanda, juga dikenal nama jalan-jalan yang dikenal seperti halnya Jalan Braga di Bandung seperti Jalan Kayoetangan di kota Malang yang juga cukup termasyhur dikalangan para Turis terutama dari negeri Belanda juga Jalan Malioboro di Yogyakarta dan beberapa ruas jalan di Jakarta. Namun sayangnya nama asli jalan ini tidak dipertahankan atau diubah dari nama sebelumnya yang dianggap populer seperti halnya Jalan Kayoetangan di kota Malang diganti menjadi Jalan Basuki Rahmat.

Foto Tempat Wisata Jalan Braga Bandung
Jalan Braga Bandung Sekarang

Foto Jalan Braga Bandung Tempo Doeloe
Jalan Braga Bandung Tempo Doeloe

Tempat Wisata Curug Cimahi Jawa Barat

Curug atau juga Air Terjun Cimahi ini, memiliki ketinggian sekitar 87 m, merupakan salah satu curug yang tertinggi di wilayah Bandung dan sekitarnya. Nama Cimahi berasal dari nama sungai yang mengalir di atasnya yaitu Sungai Cimahi yang berhulu di Situ (danau) Lembang dan mengalir ke Kota Cimahi. Curug ini berada di ketinggian 1050 m dpl dengan suhu di kawasan ini berkisar 18-22 derajat Celsius.

Jika dilihat dari atas, curug ini memiliki dua tingkat dan termasuk yang unik. Sesuai namanya cimahi alias air cukup (bahasa Sunda), debit air terjun ini selalu sama, baik saat musim hujan atau pun kemarau. “Namun, dibandingkan puluhan tahun lalu, debitnya jauh berkurang.

Tak jauh dari Curug Cimahi dapat ditemui juga Curug Bugbrug dan Curug Panganten yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Curug Cimahi ini.

Curug cimahi berada dibawah pengelolaan PERHUTANI.

 

Lokasi Tempat Wisata Curug Cimahi Jawa Barat

Terletak di Jalan Kolonel Masturi, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Propinsi Jawa Barat.

Peta dan oordinat GPS: 6° 47' 56.58" S 107° 34' 39.34" E

 

Aksesibilitas Tempat Wisata Curug Cimahi Jawa Barat

Berjarak kurang lebih 10 kilometer dari kota Cimahi ke arah Lembang atau 20 km (sekitar 1 jam) dari kota Bandung.

Ada beberapa alternatif jalan yang bisa dipilih untuk mencapai curug ini. Kebanyakan yang digunakan ialah jalur Cimahi melalui Cihanjuang dan Parongpong, dan jalur Lembang.

Jika menggunakan kendaraan pribadi atau travel dari pusat Kota Bandung, cukup menyusuri jalur Cihideung menuju Cisarua. Dan bila dari pusat kota Cimahi dapat melalui Sersan Bajuri ke arah Universitas Advent Indonesia menuju ke Terminal Parongpong. Lokasi Curug ini sendiri cukup mudah untuk dijangkau baik dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum dengan kondisi jalan umumnya baik (beraspal). Pintu masuk Curug Cimahi terletak tepat di sebelah terminal angkot Cisarua, di pinggir jalan Kolonel Masturi sehingga tidaklah sulit untuk mencarinya.

Sedangkan bagi yang menggunakan kendaraan umum dapat menggunakan jasa angkutan umum dengan jurusan Ledeng-Sukasari dari terminal Ledeng. Setelah sampai di Terminal Sukasari (di depan Vila Istana Bunga), dapat diteruskan dengan berjalan kaki sekitar 15-20 menit atau dapat memanfaatkan jasa angkutan umum Cisarua-Lembang dengan ongkos yang relatif murah. Jika dari kota Cimahi jalan termudah adalah dari Terminal Pasar Atas Cimahi jurusan Cimahi-Cisarua dengan tarif berkisar Rp 5000.

Sementara jika dari Kota Bandung, bisa menggunakan angkutan jurusan St.Hall-Lembang dari Stasiun Kota, kemudian dilanjutkan dengan angkutan umum jurusan Lembang-Cisarua, dan turun persis di depan pintu gerbang Wana Wisata Curug Cimahi. Atau juga dperjalanan dapat ditempuh menuju terminal Ledeng, dilanjutkan dengan angkutan Ledeng-Parongpong. Dari terminal dilanjutkan memakai angkutan jurusan Parongpong-Padalarang. Ongkos yang dikeluarkan berkisar Rp 10 ribu.

Selanjutnya sesampai di depan pintu gerbang wana wisata ini perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak berundak yang menurun dan berkelok-kelok. Jalan setapak berundak ini (berjumlah sekitar 587 buah anak tangga) terbuat dari batu dan semen dengan kemiringan sekitar 45 derajad, sehingga cukup menguras tenaga dan membuat nafas terengah-engah. Waktu yang dibutuhkan untuk menuju ke curug ini dari pintu gerbang sekitar 30 menit. Sepanjang perjalanan ini akan ditemui beberapa ekor monyet ekor panjang yang bergelantungan di atas pohon.

 

Fasilitas di Tempat Wisata Curug Cimahi Jawa Barat

Fasilitas yang telah disediakan pihak pengelola di antaranya shelter yang terdapat di pinggir jalur dari gerbang menuju air terjun, tempat parkir, pintu gerbang, pagar pengaman, peta lokasi, jalan setapak, piknik site, bangku, tempat sampah, pusat informasi dan pos jaga, serta mushola dan kamar kecil. Selain itu terdapat beberapa warung milik warga yang menjual makanan dan minuman yang biasanya buka pada hari-hari ramai seperti akhir pekan dan liburan.

Foto Tempat Wisata Curug Cimahi Jawa Barat
Curug Cimahi Jawa Barat


Tempat Wisata Situ Gede Bogor

Situ Gede adalah nama sebuah danau kecil (Sd., situ atau setu berarti telaga) yang terletak di Kelurahan Situgede, Bogor Barat, Kota Bogor.

Terletak di tepi Hutan Dramaga, yakni hutan penelitian milik Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan, telaga yang memiliki luas sekitar 6 hektare ini merupakan tempat rekreasi harian bagi warga Bogor. Para pengunjung dapat berperahu, memancing, atau berjalan-jalan di kerimbunan hutan. Danau dan hutan ini pun kerap digunakan sebagai lokasi pembuatan film dan sinetron.

Lokasi wisata ini berada kurang lebih 10 km dari pusat Kota Bogor, atau sekitar 3 km di utara Terminal Bubulak. Situ Gede sebetulnya berdekatan, atau berada dalam satu sistem, dengan beberapa situ yang lain di dekatnya. Yakni Situ Leutik (kini sudah menghilang), Situ Panjang, dan Situ Burung. Yang terakhir ini terletak di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor.

Tidak berapa jauh dari danau ini terdapat Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR, Center for International Forestry Research; dan ICRAF, The World Agroforestry Center), Stasiun Klimatologi atau BMKG Dramaga dan Kampus IPB Dramaga.

Foto Tempat Wisata Situ Gede Bogor
Foto Situ Gede Bogor

Tempat Wisata Gunung Tangkuban Parahu

Tangkuban Parahu atau Gunung Tangkuban Perahu adalah salah satu gunung yang terletak di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sekitar 20 km ke arah utara Kota Bandung, dengan rimbun pohon pinus dan hamparan kebun teh di sekitarnya, Gunung Tangkuban Perahu mempunyai ketinggian setinggi 2.084 meter. Bentuk gunung ini adalah Stratovulcano dengan pusat erupsi yang berpindah dari timur ke barat. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letusan kebanyakan adalah lava dan sulfur, mineral yang dikeluarkan adalah sulfur belerang, mineral yang dikeluarkan saat gunung tidak aktif adalah uap belerang. Daerah Gunung Tangkuban Perahu dikelola oleh Perum Perhutanan. Suhu rata-rata hariannya adalah 17 oC pada siang hari dan 2 oC pada malam hari.

Gunung Tangkuban Perahu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

 

Legenda Gunung Tangkuban Parahu

Asal-usul Gunung Tangkuban Perahu dikaitkan dengan legenda Sangkuriang, yang dikisahkan jatuh cinta kepada ibunya, Dayang Sumbi/Rarasati. Untuk menggagalkan niat anaknya menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat supaya Sangkuriang membuat sebuah telaga dan sebuah perahu dalam semalam. Ketika usahanya gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu itu sehingga mendarat dalam keadaan terbalik. Perahu inilah yang kemudian membentuk Gunung Tangkuban Parahu.

Gunung Tangkuban Parahu ini termasuk gunung api aktif yang statusnya diawasi terus oleh Direktorat Vulkanologi Indonesia. Beberapa kawahnya masih menunjukkan tanda tanda keaktifan gunung ini. Di antara tanda aktivitas gunung berapi ini adalah munculnya gas belerang dan sumber-sumber air panas di kaki gunungnya, di antaranya adalah di kasawan Ciater, Subang. Gunung Tangkuban Parahu pernah mengalami letusan kecil pada tahun 2006, yang menyebabkan 3 orang luka ringan.

Keberadaan gunung ini serta bentuk topografi Bandung yang berupa cekungan dengan bukit dan gunung di setiap sisinya menguatkan teori keberadaan sebuah telaga besar yang kini merupakan kawasan Bandung. Diyakini oleh para ahli geologi bahwa kawasan dataran tinggi Bandung dengan ketinggian kurang lebih 709 m di atas permukaan laut merupakan sisa dari danau besar yang terbentuk dari pembendungan Ci Tarum oleh letusan gunung api purba yang dikenal sebagai Gunung Sunda dan Gunung Tangkuban Parahu merupakan sisa Gunung Sunda purba yang masih aktif. Fenomena seperti ini dapat dilihat pada Gunung Krakatau di Selat Sunda dan kawasan Ngorongoro di Tanzania, Afrika. Sehingga legenda Sangkuriang yang merupakan cerita masyarakat kawasan itu diyakini merupakan sebuah dokumentasi masyarakat kawasan Gunung Sunda Purba terhadap peristiwa pada saat itu.

Foto Tempat Wisata Gunung Tangkuban Parahu
Foto Gunung Tangkuban Parahu, Salah satu Tempat Wisata di Jawa Barat

Objek Wisata Gunung Tangkuban Parahu
Foto Salah Satu Kawah di Gunung Tangkuban Parahu

Foto Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu
Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Tempat Wisata Gunung Galunggung Tasikmalaya

Gunung Galunggung merupakan gunung berapi dengan ketinggian 2.167 meter di atas permukaan laut, terletak sekitar 17 km dari pusat kota Tasikmalaya. Terdapat beberapa daya tarik wisata yang ditawarkan antara lain obyek wisata dan daya tarik wanawisata dengan areal seluas kurang lebih 120 hektaree di bawah pengelolaan Perum Perhutani. Obyek yang lainnya seluas kurang lebih 3 hektar berupa pemandian air panas (Cipanas) lengkap dengan fasilitas kolam renang, kamar mandi dan bak rendam air panas.

Gunung Galunggung mempunyai Hutan Montane 1.200 - 1.500 meter dan Hutan Ericaceous > 1.500 meter.

 

Letusan Gunung Galunggung Tasikmalaya

Gunung Galunggung tercatat pernah meletus pada tahun 1822 (VEI=5). Tanda-tanda awal letusan diketahui pada bulan Juli 1822, di mana air Cikunir menjadi keruh dan berlumpur. Hasil pemeriksaan kawah menunjukkan bahwa air keruh tersebut panas dan kadang muncul kolom asap dari dalam kawah. Kemudian pada tanggal 8 Oktober s.d. 12 Oktober, letusan menghasilkan hujan pasir kemerahan yang sangat panas, abu halus, awan panas, serta lahar. Aliran lahar bergerak ke arah tenggara mengikuti aliran-aliran sungai. Letusan ini menewaskan 4.011 jiwa dan menghancurkan 114 desa, dengan kerusakan lahan ke arah timur dan selatan sejauh 40 km dari puncak gunung.

Letusan berikutnya terjadi pada tahun 1894. Di antara tanggal 7-9 Oktober, terjadi letusan yang menghasilkan awan panas. Lalu tanggal 27 dan 30 Oktober, terjadi lahar yang mengalir pada alur sungai yang sama dengan lahar yang dihasilkan pada letusan 1822. Letusan kali ini menghancurkan 50 desa, sebagian rumah ambruk karena tertimpa hujan abu.

Pada tahun 1918, di awal bulan Juli, letusan berikutnya terjadi, diawali gempa bumi. Letusan tanggal 6 Juli ini menghasilkan hujan abu setebal 2-5 mm yang terbatas di dalam kawah dan lereng selatan. Dan pada tanggal 9 Juli, tercatat pemunculan kubah lava di dalam danau kawah setinggi 85m dengan ukuran 560x440 m yang kemudian dinamakan gunung Jadi.

Letusan terakhir terjadi pada tanggal 5 Mei 1982 (VEI=4) disertai suara dentuman, pijaran api, dan kilatan halilintar. Kegiatan letusan berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983. Selama periode letusan ini, sekitar 18 orang meninggal, sebagian besar karena sebab tidak langsung (kecelakaan lalu lintas, usia tua, kedinginan dan kekurangan pangan). Perkiraan kerugian sekitar Rp 1 miliar dan 22 desa ditinggal tanpa penghuni.

Letusan pada periode ini juga telah menyebabkan berubahnya peta wilayah pada radius sekitar 20 km dari kawah Galunggung, yaitu mencakup Kecamatan Indihiang, Kecamatan Sukaratu dan Kecamatan Leuwisari. Perubahan peta wilayah tersebut lebih banyak disebabkan oleh terputusnya jaringan jalan dan aliran sungai serta areal perkampungan akibat melimpahnya aliran lava dingin berupa material batuan-kerikil-pasir.

Pada periode pasca letusan (yaitu sekitar tahun 1984-1990) merupakan masa rehabilitasi kawasan bencana, yaitu dengan menata kembali jaringan jalan yang terputus, pengerukan lumpur/pasir pada beberapa aliran sungai dan saluran irigasi (khususnya Cikunten I), kemudian dibangunnya check dam (kantong lahar dingin) di daerah Sinagar sebagai 'benteng' pengaman melimpahnya banjir lahar dingin ke kawasan Kota Tasikmalaya. Pada masa tersebut juga dilakukan eksploitasi pemanfaatan pasir Galunggung yang dianggap berkualitas untuk bahan material bangunan maupun konstruksi jalan raya. Pada tahun-tahun kemudian hingga saat ini usaha pengerukan pasir Galunggung tersebut semakin berkembang, bahkan pada awal perkembangannya (sekitar 1984-1985) dibangun jaringan jalan Kereta Api dari dekat Station KA Indihiang (Kp. Cibungkul-Parakanhonje) ke check dam Sinagar sebagai jalur khusus untuk mengangkut pasir dari Galunggung ke Jakarta. Letusannya juga menyebabkan British Airways Penerbangan 9 terpaksa mendarat darurat di Bandara Halim Perdanakusuma, setelah keempat mesinnya mati total.

 

Gunung Galunggung Tasikmalaya sebagai Obyek Wisata

Kebanyakan pengunjung obyek wisata Galunggung adalah wisatawan lokal, sementara wisatawan dari mancanegara masih di bawah hitungan 100 orang rata-rata per tahun. Rata-rata wisatawan dalam maupun luar negeri yang berkunjung ke Gunung Galunggung berjumlah 213.382 orang per tahun.

Melihat potensi daya tarik yang mungkin digali, serta posisi geografis yang cukup strategis, serta memiliki kekhasan dari kondisi alamnya obyek wisata Gunung Galunggung cukup potensial untuk dijual kepada wisatawan mancanegara. Namun obyek wisata tersebut belum dikemas dalam paket wisata yang profesional.